by

Memahami Dengan Baik Antara SEO dan SMO Serta Perbedaannya

Memahami Dengan Baik Antara SEO dan SMO Serta Perbedaannya. Dunia digital saat ini sudah berkembang sedemikian pesat. Banyak pengguna internet memanfaatkan media online sebagai tempat untuk berkreasi maupun hanya sekedar menyampaikan aspirasi mereka, baik lewat tulisan pada sebuah blog maupun pada akun social media yang mereka miliki.

Saat ini selain blog, banyak pengguna memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi usaha mereka ataupun hanya sekedar agar terlihat eksis. Sebut saja Instagram, Facebook, Twitter, dan Tiktok. Media sosial ini banyak sekali penggunanya, terutama di Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, media sosial tersebut juga memberikan semacam tool analisis yang bisa digunakan untuk melihat sejauh mana perkembangan aktivitas si pengguna.

Jika selama ini kita lebih mengenal dunia webmaster dengan segala optimasinya pada mesin pencari, maka media sosial juga memiliki hal yang sama. Para pengguna yang memanfaatkan media sosial ini sebagai kegiatan promosi mereka, dapat mengoptimalkan kinerja aktivitas mereka dalam berjualan lewat media sosial. Tentu semua itu ada ketentuan dan caranya masing-masing, karena antara optimasi mesin pencari dan optimasi media sosial jelas berbeda.

Search Engine Optimization Terfokus Hanya Pada Mesin Pencari

Seorang webmaster maupun blogger tentunya memahami bahwa website maupun blog personal mereka akan lebih optimal jika mendapatkan trafik secara organik melalui mesin pencari google maupun mesin pencari lainnya yang sudah dikenal. Di sinilah kita mengenal adanya istilah Search Engine Optimization atau SEO.

Secara umum SEO merupakan upaya dari pemilik web atau blog untuk menaikkan posisi ranking konten yang mereka buat agar bisa terindeks dengan baik di mesin pencari. Target yang ingin dicapai tentu adalah halaman satu. Dalam melakukan upaya ini, pemilik web atau blog akan melakukan berbagai cara dan teknik dalam melakukan optimasi.

Dalam SEO kita mengenal dua metode untuk melakukan optimasi yaitu on-page dan off-page. Optimasi on-page memfokuskan penyusunan struktur SEO pada title dan deskripsi web/blog. Kemudian melakukan teknik penerapan struktur SEO pada konten. Selain itu pada platform tertentu, misalnya WordPress, dibutuhkan plugin SEO untuk menunjang efektivitas editing yang kita lakukan pada tiap halaman web/blog.

Dalam optimasi off-page, kita akan membangun banyak jaringan link. Kenapa hal ini dibutuhkan? Karena mesin pencari lewat algoritma mereka akan memfilter dan menelusuri referensi link yang kita tautkan pada situs tertentu. Dari sinilah pada akhirnya akan dinilai layak atau tidaknya web atau blog kita masuk pada halaman indeks mesin pencari, khususnya Google.

Social Media Optimization Optimasi Internal Pada Media Sosial

Saat ini sudah banyak orang mempelajari bagaimana cara melakukan optimasi pada social media yang mereka miliki. Hal ini juga didukung dengan adanya tool analisis yang dikembangkan oleh pihak social media tersebut. Namun penerapan optimasinya hanya bersifat pada lingkungan area social media itu berada. Misalnya kita melakukan optimasi pada akun bisnis Instagram, maka optimasinya hanya berlaku pada lingkungan Instagram dan jaringannya, semisal Facebook, khususnya untuk konten sponsor.

Begitu pula dengan media sosial lainnya. Karena pihak pengembang juga telah membuat mesin pencari sendiri dalam social media mereka. Tentunya mesin pencari ini hanya berlaku pada website media sosial tersebut, tidak berlaku untuk di luar website mereka. Ini yang biasanya kita kenal dengan istilah umumnya sebagai social media signal di mana mesin pencari yang ada pada media tersebut mampu menelusuri apa yang kita butuhkan dengan mengetikkan kata kunci tertentu.

SEO dan SMO adalah Dua Istilah yang Berbeda dalam Penerapannya

SEO dan SMO keduanya sama-sama melakukan optimasi, namun target utama yang diinginkan tidaklah sama. Dalam sisi teknis, keduanya juga menerapkan metode yang berbeda. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa optimasi pada media sosial termasuk SEO. Yang umum digunakan adalah istilah SMO atau social media optimization.

Hal ini dikarenakan keduanya memang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. SEO secara umum hanya untuk penerapan pada web dan blog dengan target visitor pada mesin pencari, di mana pemilik web  atau blog sebelumnya melakukan riset kata kunci yang mereka bidik, dan selanjutnya mereka melakukan penyusunan pada konten dengan struktur yang dianggap ramah pada mesin pencari.

Tahap selanjutnya mereka melakukan optimasi dengan teknik yang mereka pelajari agar konten atau blog mereka bisa masuk ranking pada halaman Google dan mendapatkan visitor organik atau pengunjung secara umum tidak terbatas pada geografis tertentu. Tujuannya tentu saja selain apa yang mereka tulis tercapai juga biasanya bisa menjadi nilai tawar tersendiri dalam usaha bisnis yang mereka jalankan.

Berbeda dengan optimasi social media, target mereka adalah pengguna yang sama, tidak berlaku pada mesin pencari di luar media yang mereka gunakan. Optimasinya juga berbeda, mulai dari kelengkapan profil, foto dan video yang menarik, penulisan konten yang memiliki metode tersendiri, hingga pada penerapan kata kunci dalam bentuk hashtag yang digunakan.

Pengoptimalan social media lebih pada desain grafis pada konten dan profil pemilik akunnya. Selain itu, faktor follower juga menjadi indikator seberapa banyak konten yang kita buat mampu menjadi daya tarik. Namun sayangnya, kebanyakan pengguna kadang menggunakan bot dalam mencari follower, yang pada akhirnya membuat pihak pengembang melakukan upaya peringatan pada akun-akun yang mealkukan spamming dengan bot follower.

Bagaimana dengan riset kata kunci pada social media? Kata kunci pada social media berbentuk hashtag. Saat ini banyak website-website yang memberikan referensi hashtag atau kata kunci populer dan terbanyak dicari oleh pengguna. Dari sini kita bisa menyesuaikan target apa yang kita bidik dengan menyesuaikan konten yang kita buat. Penerapan hashtag atau kata kunci pada social media ini terbilang tak terbatas.

Berbeda dengan SEO, penerapan sebaran kata kunci pada sebuah konten blog dibatasi oleh Google. Jika kita melakukan keyword stuffing, secara otomatis Google akan menandainya dengan spamming keyword. Efeknya, konten yang kita buat akan terkena sanksi sandbox, deindex, dan lainnya. Pada media sosial, ini tidak berlaku. Kita bisa memasukkan hashtag sebanyak apa pun yang penting sesuai dengan niche yang kita buat.

Nah, sampai di sini mungkin sedikit banyak kita telah memahami secara sederhana apa yang dimaksud dengan SEO dan SMO, serta sedikit perbedaannya. Intinya, kedua optimasi ini tidak bisa dikatakan sama, karena berbeda pada teknik dan penerapannya. Tetapi tujuannya sama, yaitu sama-sama ingin menarik visitor agar pengguna atau pengunjung melihat dan membaca konten yang kita bagikan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 comments

  1. Jadi lebih paham bedanya sekarang. SEO dan SMO punya aturan main masing-masing yang harus dimengerti supaya gak salah persepsi ya..Tulisannya sangat mencerahkan mas..tengkyu

    1. Sama-sama mba, pada dasarnya memang mereka memiliki aturan main tersendiri baik seo maupun smo, secara tujuan ya sama saja untuk mendapatkan trafik atau engagment lah istilah kerennya sosmed wkwkwk

News Feed